Kamis, 02 Juli 2009

Sawung Jleger ; makhluk terbang ala zaman(o) edan

(sebuah refleksi kuratorial atas karya patung anata o’ edan berjudul sawung jleger )

Oleh: eko nugroho

Orang Jawa pada umumnya menggambarkan identitas mereka dengan alam dan symbol symbol. Orang jawa kerap menganggap alam adalah symbol- symbol. Bahwa hubungan dengan setiap entitas keberadaan berpusat pada konfigurasi kosmos yang terus meniup kan ruh kehidupan dan keseimbangan pada tatanan dunia . Dan ini digambarkan banyak dalam simbol mitologi orang Jawa ,terutama mitologi pewayangan sebagai bentuk simbolisasi identitas nilai nilai luhur orang Jawa. Konsepsei budaya Jawa ini lah yang mengkonstruksi tindak tanduk orang Jawa dalam sejarah bangsa bangsa dunia. Sebagai bangsa yang hidup dengan alam simbolis yang khas

Era postmodernisme telah menghampiri dan membelit erat otak manusia sekarang ini. Dan orang jawa mungkin sedang membrikan symbol suatu deret sejarah denagn wacana”zaman edan” , dramaturgi yang berlawanan dengan kepatutan…memporak porandakan aturan kosmos dan mebongkar suatu tirai personal antara dunia dgn alam konsepsi ideal ataupun mipi mipi simbolis. .Sehingga disinilah selembar tokoh pewayang seperti semar atau petruk, atau yang lebih menjijikan Rahwana meng”orang” dengan tiba- tiba…….

Kecarut- marutan ini didefinisikan oleh Perupa Ananat o’edan dalam konstruksi patung mitik sesosok makhluk “cerita peri” . Makhluk itu hadir di realitas dunia dalam sosok Sawung jleger seekor burung berbadan mortir dan bersayap kelelawar denagn sebuah mitologi tertatah dipermukaan membran sayapnya . Suatu penggambaran metafiksika yang kontemplatif dari tangan seniman yang sudah berkali kali memamerkan karya “edan”nya yang terkenal denagn ukurannya yang raksasa ini. Sawung Jleger sebagai sosok makhluk terbang ala postmodern(baca zaman edan), Makhluk yang badannya sendiri sudah bermasalah. Makhluk yang membawa berbagai prahara sejarah ke lelapnya tidur setiap orang Jawa. Makhluk yang mungkin juga membangunkan orang jawa di suatu kenyataan. Kenyataan yang tersusun atas ketidak nyataan dan kecarut marutan kebebasan . Seolah olah tabu tetapi halal ,seolah olah manusia tapi bukan,…sebuah “dunia seolah olah”…yang mengaburkan setiap identitas .. dan mungkin identitas orang Jawa itu sendiri. .

..”makhluk” mitik berkerangka metal dan berbadan terbuat dari logam sisa altileri milik angkatan bersenjata ini kiranya hadir sebagai sosok yang bercerita tentang narasi postmodern orang “Jawa”. Bagaimana logam yang menjadi bahan dasarnya merentangkan suatu mitologi yang ditatah apik diatas selembar kulit.Sebuah symbol alam yang keras(logam) dipertemukan denagn dunia ide mitis(symbol tatahan pewayangan disayap) yang begitu transedental . Ini adalah terjemahan “edan” dari suatu sangkala waktu dimata perupa Anata.

Ananta sebagai perupa kontemporer yang karyanya khas bertema atau bercorak budaya Jawa selalu memikirkan realitas kesenianya dalam konteks budaya Jawa yang kental. Ia berpendapat bahwa setiap karya seni adalah sebuah hasil dialektika kontemplatif tertentu yang membawa narasi- narasi personal si seniman tentang suatu konsep . Untuk Sawung Jleger narasi yang coba dikemukakan sebenarnya adalah ide tentang bagaimana pergerakan, terbang , ataupun obsesi idealisme dalam sebuah situasi yang kontroversial. .Sehingga apa yang di visualkannya melalui karya seni patung ini pada dasarnya adalah suatu tumpahan cerminan alam tidak sadarnya yang selalu menganggap bahwa budaya jawa atau mitologi yang dipunyai masyarakat jawa adalah sesuatu yang “seksi” dan filososfis. sesuatu yang bisa membuat orang berfikir tentang alam semsta dan berbagai bentuk hubungan yang selalu meliputi masyarakat modern sekarang ini.

Filososfi Sawung Jleger berusaha memberikan inspirasi bahwa ada Suatu ketidak wajaran yang melandasi idealisme yang keluar dari kepala manusia sekarang ini. Manusia manusia dari jenis pemimpi yang oportunistik dan hipokrit yang menciptakan kelas sosial baru denagan logika oposisi biner tradisional dan modern. Dalam hal ini sebagai objek eksplorasi adalah metafor manusia Jawa itu sendiri. Bagaimana orang jawa yang penuh idealisme natural dan simbol simbol yang kuat akan akar tradisinya lahir pada sebuah keadaan yang begitu morat marit, ditengah konflik, modernitas, lingkungan yang rusak, kapitalisme,, kriminalitas , dan segala macam kejadian yang tidak senonoh yang mbludak…singkatnya ia hadir pada sebuah “kota” ala millenium yang carut marut dengan simbol simbol rendahan dan banal. Semua hadir denagn lip service , kebohongan yang halus dan “ tulus” .Sementara orang Jawa hadir dengan kejujuran halus yang tulus. Kemudian pada saat yang sama masyarakat mengkotak kotakan dalam logika opposisi biner tentang kuno dan modern……ndeso dan metropolis. Orang Jawa dalam pengertian kultural dipasung dalam justifikasi kuno , feodal dan tak patut disentuh. Hingga di suatu kala , ketulusan itu memiliki sayap dan terbang entah kemana membawa setumpuk cerita narasi zaman ini . Pergi ke pada jiwa jiwa yang menghargainya atau paling tidak kemudian ketulusan ini tersimpan dalam museum yang mengawetkan nilai nilai itu sebagai mumi yang hanya di pandang tapi tidak lagi berperan.

Gambaran orang Jawa adalah metafor parodikial bagi gambaran bangsa ini ..Bangsa Indonesia…Suatu bangsa yang tidak bisa dipungkiri sebagai suatu wawasan yang sangat Jawa centris . Suatu bangsa yang terkaget kaget oleh datang nya kecarut marutan simbol. Hingga di ide kan oleh Ananta sebagai sesosok makhluk terbang…sebuah symbol yang beterbangan… symbol yang tidak bisa diecap oleh kulit manusia… yang memasung sejarah bangsa ini dalam identitas palsu. Suatu identitas artifisial atau identitas ala zaman edan yang selalu minta dibuat benar tetapi jauh dari “benar’nya nilai nilai kebenaran universum.

Kalau kita berdialektika lamgsung dengan Sawung Jleger kita akan temukan bahwa kita sedang berdialektika dengan tiga entitas. Pertama, si seniman , kedua dengan sawung Jleger sebagai suatu mitologi ,dan ketiga realitas kita sendiri sebagai khlayak pembaca. Dari sisi seniman ,mereka adalah penghasil teks .Mereka layaknya “tuhan yang mati atas teksnya” mereka hanya ibu yang melahirkan anak anaknya dan tidak pernah bisa menguasai anak anaknya…seperti sebuah metafor anak panah dalam tulisan Khalil Gibran yang mengandaikan anak anak dengan anak panah dan ibu dengan busur yang melepaskan anak panah. Ketika anak panah dilepaskan busur tidak lagi bisa menguasai anak panah hanya mengarahkan saja diawal .

Seniman--- seprti halnya Ananta-- hanyalah entitas kelelahan yang terus meracau tentang zamannya. Tentang kekonyolan pemikiran pemikiran, orang orang, pekerjaan pekerjaan , nama nama , dan lain lain…kata Jaques derrida filsuf dekonstruksi Perancis ,manusia jenis ini selalu kehilangan penguasaan makna atas dirinya dan karyanya dalam teks teksnya . Para seniman seprti menghadiahkan diri mereka kepada manusia laian melalui karyanya. Satir sekali Sawung jleger digambarkan sebagai mahkluk bersayap yang mebrikan penanda tentang terbang---- makluk yang merupakan simbol pembawa mebawa obsesi bebsas melalui syapnya . . Satirnya bahwa yang bebas adalah si teks bukan si seniman.

Dari entitas Sawung Jleger tampak suatu bahasa yang minta dikawini oleh pemaknaan dikepala yang melihatnya. Seperangkat konstruksi realitas yang kesemuanya adalah andai andai bagi suatu mimpi tentang makluk yang benar benar polos . Bisa menjadi mimpi indah yang penuh cerita ideal. atau sosok mengerikan yang mengancam eksistensi setiap manusia . Sawung Jleger adalah makluk dengan sosok yang arbiter. Sosok yang bisa dan boleh dimaknai dengan apa saja baik sebagai kebaikan, kejahatan, asmara , kebencian atau apapun.. atau bahkan kedua duanya. demikian sebuah sosok yang arbiter.

Semntara realitas kehidupan dalam konteks pembaca Sawung Jleger berkaitan dengan bagaimana kemudian manusia Indonesia dengan kompleksitas masalah kehidupanya mengeluarkan bahasa sendiri. Mereka membaca Sawung Jleger sebagai keanehan , suatu anomali yang ia lihat pada sebidang cermin. Para pembacanya membaca makluk ini sebagai bahasanya sendiri, langgam nya sendiri, lakonnya sendiri . Sosok yang sebenarnya ia kenal. Sosok yang lama sekali tak disadarinya hadir dan meng”orang” disekitar mereka, menjadi teman, kekasih, bahkan musuh . Sampai suatu saat para pembaca melihat realitas Sawung Jleger sebagai perkawinan dirinya dengan idenya serta seluruh kualitas eksternal dari kemanusiannya . seprrti tokoh gatutkaca yang menemukan identitasnya setelah lama diperam dalam perut candra dimuka. Dan kemudian makna makna dilahirkan dalam kepala mereka denagn satu kata yang terus akan dipakai dalam relitas hidup para pembaca itu , yaitu kata “aku” ….suatu kata yang telah di remangkan oleh identitas palsu. Suatu kata yang harus dimiliki kembali oleh si pembaca..hanya agar dia memiliki realitasnya… merebut kembali realitas yang dirampas sosok Sawung Jleger dalam pundi makna yang disandangnaya dalam kecarut marutan bentuk(pastiche) sebagai simbol zaman ini.

kesatuan dialektika ini memberikan suatu ide dengan bahasa sendiri dengan bahsa kebudyaan yang tergeletak terbengkalai dalam sebuah deret waktu yang materialis dan meletakan humanitas dalam belengu yang tragis blenggu kepunahan ,bahwa kita sedang berada pada masa… dimana kenyataan bukan lagi sebuah kekongkretan.. tetapi “hantu “ yang berkendaraan ilusi . Kenyataan atau realitas menjadi sebuah legitimasi atas ilusi besar kita. Ilusi yang hadir dari hasrat dasar manusia . Hasrat untuk menjadi sangat “senang….”.Sehingga sosok alami yang dihasilkan kosmos bukanlah sosok yang begitu alami .Sosok yang penuh dengan hasrat yang dilambangkan denagn entitasmakhluk terbang. Terbang melambangklan suatu obsesi manusia untuk menaklukan langit. namun meskipun kemudian manusia bisa terbang .. langit tetap langit yang artinya manusia pada dasrnya tidak mengalahkan apapun tetapi tergantung pada alam sekitar . manusia hanya berada dalam ilusi. dan mitologi yang dibawa Sawung Jleger adalah sebuah ilusi manusia. Ilusi dasar yang makin acak acakan di zaman ini. yang membuat manusia kehilangan sebutan sebutan.. kehilangan identitas seperti sawung jleger yang tidak bisa disebut sebagai jenis dari spesies apapun.

Dan ketika makhluk makhluk itu berteriak entah meneriakan kebenaran atau sampah (kitsch ) . maka hadirlah suatu semangat zaman (zeigeist) yang unik . suatu zaman yang trus merapihkan kesamaranya (vogueness) Untuk menjadi lebih samar ..lebih “peri “ tanpa memberikan kesempatan realitas kehidupan untuk hadir di ruang ruang. dan dibiarkan berada dalam keadaan seakan akan . seprti Saweung Jleger yang seakan akan ada tetapi tidak..seakan akan jinak tetapi berbahaya.. seekor makhluk yang memakan sejarah, mitologi,sebuah karya yang cukup ‘edan”. suatu penggambaran makluk terbang yang entah kenapa kemudian bernama Sawung Jleger.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar